Dalam
acara Pondok Mulia Ramadhan yang diselenggarakan TP PKK Kabupaten
Trenggalek bersama GOW di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Wakil Bupati
Muda Trenggalek H Moch Nur Arifin berikan kultum kepada tamu undangan
yang ada.
Mengawali
sambutan Wabup Arifin menyampaikan, "InsyaAllah pak bupati keimanan
warga Trenggalek sangat kuat. Kenapa kok kuat, buktinya apa? Buktinya
mendengarkan suara beduk tidak langsung berbuka. Saya ngerti alasannya
kenapa kok tidak lekas buka, bukan hanya karena iman saja, alasannya
karena tanda waktunya berbuka warga kota itu bukannya beduk melainkan
suara sirine, nging panjang baru buka. Lek gawe beduk wis gak menter
(kalau pakai beduk sudah tidak biasa) ", ucap wabup yang disambut gelak
tawa peserta pondok mulia ini.
"Poso
beduk wis gak usum neng Galek (Puasa beduk sudah tidak jaman di
Trenggalek)", imbuhnya dengan logat jawa. Dengan tema "Kualitas
kepribadian seorang muslim yang baik untuk mencapai kesuksesan", "ini
kalau di bicarakan saja gampang tapi dicontohkan yang paling sulit.
Makanya saya nyanyi tidak akan ceramah cuma saya ingin sedikit
bercerita". "Ada sedikit cerita rentang sahabat saat kekhalifahan Umar
Harun Ar Rasyid yaitu bani adafsia di Bagdat, ada ulama cerdik. Yang
satu namanya Abu Nawas dan yang satunya lagi Abu Wardah".
"Selama
hidupnya Abu Nawas dan Abu Wardah ini diceritakan, orang yang selalu
sukses namun taruhannya selalu kematian. Raja Harun Ar Rasyid ketika
memberikan perkara dan bila tidak bisa menyelesaikan, ancamannya adalah
hukuman mati". Ini saya menceritakan tentang Abu Wardah. Raja Hafun Ar
Rasyid itu selalu habis atau kalah seribu dinar sama Abu Wardah karena
istana dibawah laut. Hari ini saya tidak menceritakan mengenai istana di
bawah lautnya melainkan cerita lain. Untuk itu lain waktu saja". Dengan
kekalahan ini raja selalu tidak terima, ibarat rajanya Pak Emil.
Akhirnya raja mengundang Abu Wardah ke Pendopo, tetapi sebelum
mengundang Abu Wardah, pak bupati atau raja ini mengundang lebih dahulu
perdana menteri (kita ibaratkan sekda), menteri pembangunan (diibaratkan
kepala PU) dan menteri keuangan (kita ibaratkan kepala BPKAD)".
Sementara
itu, diceritanya raja Harun menyampaikan saya seneng dengan ulama yang
namanya Abu Wardah, cerdiknya luar biasa. Ketika kita beri persoalan
selalu bisa dipecahkan, umpama saya bisa memperkerjakan umat tersebut 10
tahun tanpa harus membayar pasti untung". "Bagaimana caranya ya?.
Sekarang begini saja, Perdana menteri kamu pura-puralah buta, kamu
menteri pembangunan pura-puralah tuli dan menteri keuangan
berpura-puralah bisu. Nanti Abu Wardah saya panggil untuk ngobati
kalian. Kalian semua harus berpura-tidak bisa sembuh, ujar raja". "Kalau
Abu Wardah bisa mengobati saya kadih upah 1000 dinar, namun sebaliknya
kalau tidak mampu saya suruh kerja tanpa upah selama 10 tahun. Perdana
menteri bertanya kalau tidak dibayar bagaimana dia bisa menghidupi anak
istrinya. Kan dia sudah mendapat 1000 dinar sebelumnya, ungkap raja".
Dipanggilah
Abu Wardah ke istana, "wahai tuanku ada apa gerangan saya di panggil ke
istana ini". Raja Harun "Begini Abu Wardah, saya sekarang ini susah
karena pemerintahan ini tidak bisa berjalan baik. Karena perdana
mentriku buta, menteri pembangunanku tuli dan menteri keuanganku bisu,
tolong obatilah mereka". "Kalau
kamu bisa mengobati akan saya kasih hadiah 1000 dinar namun bila tidak
bisa kamu harus bekerja kepadaku 10 tahun tanpa upah dariku". "Tak bisa
menolah permintaan raja, Abu Wardah pulang. Dirinya sadar sedang
diperalat oleh raja. Abu Wardah berpikir dan merenung sepulangnya dari
istana, tiba-tiba saat merenung dirinya dikejutkan dengan anak kecil
yang membunyikan petasan. Sambari menggetutu Abu Wardah memarahi anak
yang membunyikan petasan tersebut, sambil mengumpat mendengarkan suara
keras ini orang tuli bisa dengar tahu". "Dari perkataannya tersebut
akhirnya muncul ide dari Abu Wardah untuk menjawab permasalahannya. Dia
pulang langsung menggulung kertas hingga menyerupai petasan dan sumbu
yang sangat besar. Terus dibawanya kembali ke istana menggunakan
keledai".
"Abu Wardah menghadap raja, Baginda saya sudah menemukan obatnya. Mana obatnya? ini baginda".
"Syaratnya
dalam saya mengobati nanti cuma saya dan tiga pejabat yabg sakit itu
saja di istana. Baginda dan semua prajurit tolong menunggu di luar
istana". Ke empat orang tersebut termasuk Abu Wardah duduk bersila di
dalam istana. Lalu Abu Wardah meletakkan petasan di tengah-tengah
mereka. Mendapati petasan besar di tengah menteri pembangunan yang
mengaku tuli kaget". Menteri Pembangunan bertanya, Abu! apa ini gulungan
kertas besar engkau taruh di tengah, jawab Abu wardah sudahlah pak
menteri saya jawabpun percuma, karena anda tuli pasti tidak mendengar.
Penasaran akhirnya semua bertanya, apa ini, petasankah? Iya benar ini
petasan". Nanti petasan ini akan saya nyalakan, kalau anda keluar pasti
raja akan marah karena tidak mau saya obati. Paling ketika saya nyalakan
isyana ini cuma runtuh, ujar Abu Wardah".
Akhirnya
sumbu petasan dinyalakan Abu sambil meninggalkan lokasi, ketakutan akan
ledakan ketiga menteri ini lari tunggang langgang keluar istana. Yang
buta akhirnya kelihatan kalau tidak buta karena bisa melihat, begitu
juga yang tuli dan bisu karena bertetiak dan bisa menjawab pertanyaan
penjaga". "Abu Wardah menang, dan mendapatkan hadiahnya kembali dari
raja". Hikmah yang bisa kita ambil, "sebenarnya kalau kita mau sukses,
kita harus mengenali dulu siapa kita, apa yang kita hadapi dan bagaimana
caranya, seperti Abu Wardah dan Abu Nawas. Kalau diperintah raja tidak
perlu koment, melainkan dicari bagaimana cara bisa selamatnya". Kalau
tugasnya benar maka dilaksanakan secara benar, namun bila tugasnya
menipu baru ditipu balik, seperti cerita tadi. Karena manusia diciptakan
sebagai khalifah di dunia, sehingga mari kita saling mengingatkan dan
mengisi antar sesama umat Alloh", tandas Wabup.