Setiap daerah mempunyai tata cara dan adat kebiasaan sendiri di dalam menyambut tahun baru Hijriyah ,kalau orang Jawa menyebutnya dengan Suroan . Berbagai kegiatan diselenggarakan di daerah-daerah untuk menyambut datangnya tahun baru hijiriyah tersebut. Seperti yang dilaksanakan oleh masyarakat Kecamatan Dongko pada hari Minggu tanggal 26 Oktober 2014 . Masyarakat Dongko sangat antusias dan mendukung dengan acara tersebut terbukti masyarakat sepanjang jalur yang dilewati arak-arakan mulai dari depan pondok pesantren Darussalam sampai lapangan Dongko padat dengan pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung arak-arakan Tumpeng dan Takir Plontang turut mengiringi acara tersebut Camat , Kepala Desa dan PNS se Kecamatan Dongko dengan memakai pakaian adat Jawa serta diiringi 2 kelompok drumband. Masyarakat Kecamatan Dongko memberi nama kegiatan tersebut Ngetung Batih. Dalam kegiatan tersebut disajikan makanan khas tempo dulu yang dinamakan Tepo. Tepo ini merupakan makanan khas masyarakat Dongko di era sebelum tahun 1980. Menurut penjelasan para sesepuh Dongko Tepo ini banyak dijual oleh pedagang nasi di wilayah Dongko. Namun keberadaannya sekarang hanya menjadi cerita dari para sesepuh bahwa pada saat itu mereka sangat menikmatinya. Tepo disajikan dengan lodeh tempe goreng, untuk itu masyarakat Dongko sekarang melestarikan kekayaan kuliner tersebut agar tidak hilang begitu saja dengan dinamai " Gebyar Suro Ngetung Batih ".
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Kholiq SH,M.Si sekaligus memberikan apresiasi kepada
masyarakat Dongko yang secara kompak menggali kekayaan budaya yang ada di wilayah Dongko, sehingga akan menambah kekayaan budaya bangsa. Kegiatan ini menurut saya sangat baik karena merupakan ungkapan rasa syukur kepada Alloh swt yang telah memberikan kemakmuran,ketenteraman ,keselamatan sehingga masyarakat Dongko dapat hidup rukun dan damai. Ikut mendampingi Wakil Bupati Kepala Dinas Pendidikan dan Ny.Penny Mulyadi serta Muspika Kecamatan Dongko.