"Tradisi
ini merupakan bentuk syukur sekaligus mengenang Adipati Menak Sopal pada masa
pemerintahan Mataram Kuno, sekitar pertengahan Abad V, yang telah berjasa
membangun Bendungan (Dam)
Bagong sehingga irigasi pertanian di Trenggalek semakin baik,". Bertempat di
komplek makam Bagong tepatnya bulan Selo istilah di bulan jawa yang tahun ini
jatuh pada hari Jumat Kliwon, 29 Agustus 2014 telah diselenggarakan upacara
adat bersih DAM Bagong. Hadir pada acara ini Bupati Trenggalek beserta istri,
anggota Forkopimda, Para Kepala SKPD, Kepala Desa/Kelurahan se-Kecamatan
Trenggalek.
Sehari sebelumnya telah
dilaksanakan berbagai kegiatan yang merupakan serangkaian upacara adat Bersih Dam
Bagong tersebut. Pada Kamis, 28 Agustus 2014 pukul 19.00 telah dilakukan
ritual penyucian/pemandian kerbau yang akan disembelih dan dilanjutkan
dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Marsudi dengan
lakon “Dewi Sri Mulih”. Pagi harinya setelah sholat subuh dimakam Ki ageng
Menak Sopal diadakan bacaan surat yasin dan di Rt/ 16 Bagong diadakan semaan
alquran. Selanjutnya sekitar jam 7 pagi di mulai Marwo kolo dengan dalang Marjan
Gareng dari sugihan Kampak serta malam harinya diadakan pentas jaranan Kuda
Bhirawa dari Tulungagung.
Puncak acara dimulai dengaan
pembacaan legenda Dam Bagong oleh Sri Harjo Mulyono. Dalam legenda ini
disebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-16
Masehi Menak Sopal yang merupakan tokoh penyebar Islam di wilayah Trenggalek
sangat prihatin melihat kondisi sawah para petani yang sering mengalami
kekeringan dan gagal panen. Karena itu timbul gagasan untuk mengajak
masyarakat menaikkan air kali Bagong dengan membuat Dam. Namun kerja keras
tersebut selalu gagal, karena begitu selesai dikerjakan Dam selalu runtuh.
Berdasarkan petunjuk dari ayah Menak Sopal, yaitu Menak Srobo, Dam akan
berhasil dibangun bila diberi tumbal kepala Gajah Putih. Akhirnya Menak
Sopal berhasil mendapatkan Gajah Putih dari meminjam pada Mbok Rondho Krandon.
Gajah Putih disembelih dan kepalanya untuk tumbal, sehingga Dam Bagong bisa
terwujud. Menak
Sopal yang juga
merupakan putra dari pasangan Menak Kronggo (tokoh pendatang dari wilayah Sunda
yang membawa pengaruh Islam) dan Dewi Amis Wati atau Dewi Amis Ayu, putri
bangsawan di Trenggalek, dianggap berjasa karena berhasil membangun Bendungan
Bagong yang memberi dampak positif terhadap kemakmuran di wilayah itu, terutama
di sektor pertanian.
Dalam sambutan Bupati Trenggalek Dr.Ir.Mulyadi ,WR,MMT
upacara adat bersih dam bagong dengan melarung kepala kerbau ini merupakan
wujud napak tilas ketika menak sopal membangun Dam Bagong dengan
mengorbankan Gajah Putih. Selain Itu upacara ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat Trenggalek khusunya masyarakat
petani di kecamatan Trenggalek dan pogalan yang sawahnya mendapatkan aliran air
dari Dam Bagong. Bupati Trenggalek juga berharap Kegiatan Upacara seperti
bersih Dam Bagong, Labuh Laut dan Upacara adat yang lainnya bisa dijadikan
agenda tahunan untuk melestarikan budaya leluhur dan bisa dipromosikan sebagai
salah satu obyek wisata budaya yang ada di Kabupaten Trenggalek.
Upacara
adat Bersih Dam Bagong dilanjutkan dengan ziarah ke makam Ki Ageng Menak
Sopal oleh Bupati Trenggalek yang diikuti oleh anggota Forpimda Kabupaten
Trenggalek, Kepala SKPD. Selanjutnya, Bupati secara simbolis melemparkan
kaki ke dalam Dam Bagong. Bersamaan
dengan itu, kepala kerbau juga ikut dilempar ke Dam Bagong.
Masyarakat secara spontan terjun ke Dam Bagong untuk memperebutkan kepala dan
kaki kerbau tersebut.