Proses
pelestarian budaya asli daerah Kabupaten Trenggalek oleh Pemerintah terus
digalakkan. Seperti tidak ingin kesenian asli daerahnya diklaim oleh daerah
lain, pada 23 hingga 26 Agustus 2013 bertepatan dengan peringatan Hari
Jadi Kabupaten Trenggalek ke 819 diselenggarakan Festival Turonggo Yakso.
Setelah 4 hari berlaga yang diikuti oleh beberapa seniman yang tergabung dalam
sanggar dan perkumpulan Turonggo Yakso, pada Senin 26 Agustus 2013 malam,
festival ini ditutup secara resmi sekaligus pengumuman para pemenang.
Kesenian
Jaranan Turongo Yakso sendiri adalah kesenian jaranan asli dari Kabupaten
Trenggalek. Dalam penampilannya, Turonggo Yakso berbadan kuda dan berkepala
raksasa. Seni tarian Turonggo Yakso ini memadukan gerakan yang dinamis,
energik, dan sangat disakralkan dalam memainkannya serta mempunyai keindahan
seni dan kekuatan tersendiri.
Dalam
sambutan tertulis Bupati Trenggalek yang dibacakan oleh Sigit Agus Hari Basuki
SH M.Si Asisten Pemerintahan dan Kesra menyampaikan upaya pelestarian dan
pengembangan Seni Budaya Kabupaten Trenggalek dapat menumbuh kembangkan Pencitraan
Karakter bangsa yang Ramah, berbudaya, bermartabat dan menjunjung tinggi
derajat kemanusiaan.
Bupati
berpandangan bahwa hal ini merupakan bentuk aktualisasi dan upaya untuk
peningkatan dari waktu ke waktu dan pengakuan secara formal untuk mendapatkan
hak paten dari kesenian Turonggo Yakso sehingga tidak sampai diklaim oleh
daerah lain bahkan negara lain. Event Festival,
perlombaan hendaknya kita gunakan untuk mendapatkan kesempatan berkompetisi
yang Konstruktif bukan sebaliknya, bukan
sekedar dilaksanakan dan diikuti. Maka
dari itu tuntutan kwalitas baik Penyelengaraan, sajian kemasan pergelaran,
harus memiliki dan memenuhi Standar tertentu yang harus kita capai.
Menurut
Bupati, dengan keikutsertaan para seniman maka akan didapatkan hal yang
positif, inspirasi serta nilai tambah di masa yang akan datang. Khusus kepada
yang berhasil mendapat predikat terbaik Bupati mengucapkan selamat serta terima
kasih dan yang belum berhasil Bupati berpesan untuk terus berupaya untuk
menjadi yang terbaik.
Dengan
berakhirnya sambutan tertulis Bupati Trenggalek, maka festival Turonggoyakso
ditutup secara resmi dengan ditandai pemukulan bedug oleh Sigit Agus Hari
Basuki SH M.Si.
Setelah melalui
penjurian oleh para juri yang terdiri dari Bambang Wibisono, S.Sn, Bimo Wijayanto, serta Sutiyono, S.Pd menetapkan 5 terbaik dari kesenian turangga yakso, 3 terbaik Non Turangga Yaksa, 1 terbaik penata tari dan 1 terbaik
dari penata iringan.