Eksistensi dan kemajuan pondok pesantren tetap
didorong dalam upaya menciptakan lulusan yang siap terjun ke masyarakat dengan
tetap mempertahankan prinsip hidup sederhana, tawadu’ dan kebersamaan, sehingga
santri benar” memiliki ilmu keislaman yang utuh dan berkualitas serta dapat
mengamalkannya. Bertempat di Pon Pes Tahfidzil Qur'an Darussalam Desa Sumbergayam Kecamatan Durenan pada tanggal 7
Juni 2013 diselenggarakan acara Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Tahfidzil
Qur’an Darussalam. Acara ini dihadiri oleh Asisten
Pemerintahan dan Kesra, Kepala Kesbangpolinmas,, Pengasuh Ponpes , Kepala Desa Sumbergayam beserta perangkatnya, Dewan Asatids
Pengasuh
Ponpes Tahfidzil Qur’an,
Wali Santri dan beserta seluruh panitia penyelenggara.
Dalam sambutan Bupati
Trenggalek yang dibacakan oleh Sigid Agus Hari Basuki, SH M.Si mengatakan bahwa
pondok pesantren merupakan institusi pendidikan islam tertua di indonesia yang
sangat fungsional meskipun masih dikelola dengan manajemen tradisional, dan
dinilai paling tahan terhadap segala tantangan zaman, karena dalam pesantren
sangat menghargai proses ikhtiar, do’a dan tawakal serta keikhlasan dalam
memperoleh barokah suatu ilmu. Dengan pengelolaan yang sederhana tersebut
Pesantren mampu memobilisasi sumber daya, tenaga, maupun dana dalam membentengi
berbagai budaya yang kurang baik agar santri mampu hidup mandiri, mampu bergaul
dengan komunitas sosial budaya yang beragam, hidup saling menghargai dan
menjunjung tingi nilai – nilai etika dan moral.
Dengan diselenggarakanya Haflah ini Bupati juga
mengucapkan selamat kepada para santri yang baru menghatamkannya Al Qur’an di Ponpes ini dan diharapkan untuk tidak merasa puas belajar sampai disini, bahkan
tertantang untuk lebih giat belajar, supaya dapat menyesuaikan diri dan tidak
terombang – ambing dengan berbagai macam perubahan dan kemajuan zaman, hal ini
selaras dengan perintah agama islam untuk belajar seumur hidup, dengan tetap
berperilaku baik, disiplin sesuai dengan aturan – aturan hukum dan norma –
norma yang berlaku. “ujarnya”
Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa saat ini
kita masih berada dibulan rajab, bulan turunnya perintah sholat lima waktu
melalui peristiwa isro mi’roj. Secara tekstual isro' mi’roj adalah perjalanan
Rasullah SAW pada malam hari dari masjidil haram ke masjidil Aqsha dan
selanjutnya naik sampai sidratil muntaha serta secara konstektual isro' mi'roj
memiliki makna simbolik yang cukup luas pengertianya, tidak sekedar melakukan
perjalanan dan naik dari satu tempat ke tempat lain, karena seluruh perilaku
Nabi SAW merupakan pedoman hidup manusia yang sangat sempurna.