Kesenian Jaranan Turongo yakso sendiri
adalah kesenian jaranan asli dari Kabupaten Trenggalek. Dalam penampilannya, Turonggoyakso
berbadan kuda dan berkepala raksasa. Seni tarian Turonggoyakso ini memadukan
gerakan yang dinamis, energik, dan sangat disakralkan dalam memainkannya.
Bupati berpandangan bahwa hal ini merupakan
bentuk aktualisasi dan upaya untuk peningkatan dari waktu ke waktu dan
pengakuan secara formal untuk mendapatkan hak paten dari kesenian Turonggoyakso
sehingga tidak sampai diklaim oleh daerah lain bahkan negara lain.
Selanjutnya, Bupati mengingatkan kepada
panitia serta peserta agar event ini jangan sampai hanya sekedar diikuti tetapi
juga harus menjadi event yang konstruktif dan menjaga kualitas. “ada target dan
standard yang harus kita capai” tegas Bupati.
Masih menurut Bupati, dengan
keitkutsertaan para seniman maka akan didapatkan hal yang positif, inspirasi
serta nilai tambah di masa yang akan datang.
Khusus kepada yang berhasil mendapat
predikat terbaik Bupati mengucapkan selamat serta terimakasih dan yang belum
berhasil Bupati berpesan untuk terus berupaya untuk menjadi yang terbaik.
Dengan berakhirnya sambutan tertulis Bupati
Trenggalek, maka festival Turonggoyakso ditutup secara resmi dengan ditandai
pemukulan bedug oleh Letkol Arhanut Mohammad Zaeni.
Setelah melalui penjurian oleh para juri yang terdiri dari Tri Broto Wibisono, S.Pd, M.Si, Bambang Wibisono, S.Sn serta Sutiyono, S.Pd terpilihlah grup Turongo Dipo Sekti dari Pogalan terpilih menjadi juara pertama. Yang menjadi juara kedua yaitu grup Turonggo Budoyo dari SUmbergedong sebagai juara II serta juara III berhasil diraih oleh grup Dharmo Putro dari Pule.