Menurut Ketua Panitia, Drs. Catur Budi Prasetyo dalam masa-masa karantina yang diselenggarakan
mulai tanggal 27-28 Agustus, para peserta yang terdiri dari 10 kakang dan 22
mbakyu mendapatkan asupan materi diantaranya kepariwisataan, kepribadian,
kemampuan bahasa asing, koreografi, kecantikan dan materi lainnya.
Pemilihan Kakang
Mbakyu ini bukan dimaksudkan untuk ajang wah-wahan saja namun dibalik
penyelenggaraan ini, Pemerintah Kabupaten Trenggalek berharap terwadahinya
bakat serta kreatifitas para remaja secara positif dalam menggali,
mengembangkan dan mempromosikan berbagai potensi Kabupaten Trenggalek khususnya
potensi pariwisata.
Selain itu, para
remaja yang memiliki potensi mampu termotivasi untuk mengenal, melestarikan,
mengembangkan dan menyebarluaskan kebudayaan daerah khususnya kebudayaan khas
Trenggalek.
Sementara itu Bupati
Trenggalek yang berhalangan hadir dan diwakili oleh Sekretaris Daerah, Ir.Sukiman,
M.Si dalam sambutan tertulisnya berpesan agar semua generasi muda khususnya
peserta kakang mbakyu Trenggalek untuk terus memperluas wawasan, pengetahuan
dan berbagai potensi yang nantinya berimplikasi pada semakin dikenalnya
Kabupaten Trenggalek dikalangan pengusaha, investor, dan wisatawan.
Selanjutnya ke-32
peserta yang mengenakan kostum tradisional terlihat begitu luwes untuk
memperkenalkan diri mereka dihadapan 4 juri yang sudah teruji dibidangnya
masing-masing. Setelah diuji dari materi pembekalan yang diperoleh selama
karantina, terpilihlah tujuh finalis. Ketujuh finalis diberi kesempatan untuk
memilih pertanyaan yang telah disiapkan untuk menguji seberapa jauh pengetahuan
mereka tentang pariwisata.
Adapun
Kakang favorit jatuh kepada Candra Mahardika dan Mbakyu Kartika Dwi
Prasetyowati. Kakang Dio Viegas Latulina Pitupulu dan Jesiskha Rateri Febriani
menyandang gelar sebagai Kakang Mbakyu Persahabatan. Sementara itu Kakang Mbakyu
berbakat masing-masing diraih oleh Yogi Pradhana Marta dan Diyanti Jati
Pratiwi.