Di mulai dari pagi hari sudah diadakan panjat
pinang yang bertempat di alun – alun. Berlanjut dengan arak-arakkan kirab
pusaka dan prosesi penerimaan pusaka di pendopo kabupaten.Dan malam harinya di
adakan Pesta kembang Api dan di tutup dengan pergelaran wayang kulit semalam
suntuk dengan dalang ki anom suroto yang di dukung oleh pelawak ki gareng, cak
dikin dan cak kirun.Sebelum acara di mulai seperti biasa di suguhkan kesenian asli Trenggalek yaitu Tari Turonggo Yakso.
Pagelaran
wayang kulit kali ini mengambil lakon “ Babad Wanamarta” inspirasi
filosofi dari lakon ini disampaikan Bupati trenggalek Dr. Ir. H. Mulyadi,WR.MMT yaitu ketika pandawa setelah mendapatkan tekanan
dan siksaan dari kurawa yang selanjutnya dengan ketulusan kesungguhan dan watak
mulia mendirikan Negara amarta di hutan wanamarta, tetapi apapun atas usahanya
dan berkat Tuhan Yang Maha Kuasa berdirilah Negara Amarta yang konon sebuah Negara
yang adidaya dan adikuasa kerena antara penguasa dan rakyatnya bersatu dalam kebaikan
dan kemuliaan.
Lebih
lanjut Bupati menyampaikan bahwa Pagelaran wayang kulit ini sudah menjadi bagian
hidup Masyarakat trenggalek dalam memperingati hari jadi setiap tahunnya,
karena jika tidak ada acara pesta kembang api dan wayang kulit dalang berskala
nasional, masyarakat merasa ada bagian kehidupan yang hilang.
Di akhir sambutannya bupati berharap pagelaran wayang kulit ini bisa memberikan suguhan yang menarik bagi masyarakat dalam rangka memperingati hari jadi kabupaten Trenggalek yang ke 818 serta ikut serta untuk tetap melestarikan kebudayaan jawa terutama wayang kulit. Karena seperti kita ketahui sekarang sudah mulai pudar kecintaan warga terhadap kebudayaan-kebudayaan jawa, dan juga banyak kebudayaan – kebudayaan asli daerah di Indonesia yang di akui oleh Negara lain.