Banyaknya infrastruktur yang rusak parah seakan menyambut kedatangan Mulyadi-Kholiq ketika awal menjabat sebagai Bupati-Wabup periode 2010-2015 di Kabupaten Trenggalek. Bukan sebuah rahasia lagi tentunya, jika saat itu hampir sebagian besar kondisi infrastruktur jalan dan jembatan banyak yang mengalami kerusakan. Entah disebabkan karena keterlambatan pemeliharaan ataupun bencana yang datang secara bertubi-tubi. Tantangan pun juga semakin berat ketika harus berhadapan dengan dana APBD yang sangat terbatas. Pekerjaan rumah ini tidak akan selesai jika tidak didukung dengan kreatifitas dan inovasi dalam menentukan kebijakan yang pro rakyat.
Saat ini lebih dari setahun pemerintahan yang dipimpin oleh pasangan Mulyadi – Kholiq berjalan. Perlahan tapi pasti, sudah nampak perbaikan infrastruktur baik di perkotaan maupun yang ada di pedesaan. Belum semua infrastruktur pastinya, karena melakukan pekerjaan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semata mengucapkan bimsalabim kemudian yang dikehendaki langsung terjadi. Tapi membutuhkan perjuangan yang keras dan kerjasama yang biak dari dari pemerintah dan masyarakat. Setidaknya, hasil perbaikan infrastruktur selama satu tahun ini dapat menguatkan harapan masyarakat pada masa pemerintahan Mulyadi – Kholiq selama 4 tahun ke depan.
![]() |
| Jalan rabat hasil bantuan stimulan di Desa Sumberdadi |
Dalam prakteknya, masyarakat desa sendirilah yang merencanakan, mengerjakan dan melaporkan hasil pengerjaan dari bantuan tersebut. Peran Pemerintah Kabupaten Trenggalek hanyalah sebagai fasilitor dan pembimbing saja. Meskipun demikian, sudah ada rambu-rambu yang telah digariskan oleh Bupati Trenggalek untuk membatasi penggunaan bantuan ini, diantaranya larangan untuk dipakai membangun Balai Desa kecuali bagi desa yang seluruh sarana prasarana infrastrukturnya dalam kondisi baik. Disamping itu, Pemerintah Desa juga tidak diperbolehkan merencanakan penggunan bantuan stimulan secara asal-asalan. Namun harus melalui musyawarah desa yang mengikutkan BPD dan tokoh masyarakat setempat. Jadi sangatlah tepat jika bantuan ini disebut sebagai bantuan untuk rakyat dan oleh rakyat.
Hasil yang dicapai juga sangat luar biasa. Hal ini dijelaskan secara detail oleh Kepala Bapemas, Imam Suprapto, SH. MM. ketika tim dari Warta Trenggalek melakukan wawancara khusus di kantornya, Kamis, 1 Desember 2011. “ Seabnyak 152 desa dan 5 kelurahan, semua telah mendapatkan bantuan ini. Namun hingga per 1 Desember 2011 laporan penggunaan bantuan stimulan yang kami terima baru dari 73 desa ”,kata Imam Suprapto. Belum adanya laporan, bukan berarti tidak ada partisipasi dari masyarakat. Kendalanya hanya masalah teknis, karena untuk mengesahkan laporan pertanggungjawaban juga harus melalui musyawarah desa serta ditandatangani oleh Ketua BPD dan Kepala Desa. Hal ini dimaksudkan agar laporan yang diterima oleh Bapemas benar-benar sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan tanpa ada rekayasa. “Sebentar lagi laporan dari semua desa pasti akan segera terkumpul”,yakinnya.
Dibantu oleh 2 staf yang membidangi, Kepala Bapemas memeriksa hasil rekapitulasi laporan bantuan stimulan yang telah masuk. Dari rekap tersebut, diketahui bahwa untuk 73 desa bantuan yang diberikan berupa 25.630 sak semen dan 176 drum aspal atau setara dengan Rp 1.359.748.500. Untuk memastikan besar kecilnya partisipasi masyarakat, kembali Imam Suprapto beserta staf memeriksa dengan lebih detail hasil pembangunan yang telah dicapai. Didapatkan secara lengkap hasil pembangunan dari bantuan stimulan di 73 desa sebagai berikut: jalan rabat sepanjang 23.650 m, jembatan/gorong-gorong sebanyak 36 unit, saluran air sepanjang 1.425 m, tembok penahan jalan sepanjang 881,2 m, sarana ibadah dan pendidikan 98 unit, jalan aspal sepanjang 8.073 m, serta lain-lain berupa gapura, MCK dan sebagainya sebanyak 19 unit. “Jika diuangkan nialinya mencapai Rp 3.440.946.210, jumlah yang luar biasa”,ungkap Imam Suprapto.
Dari nilai tersebut, diketahui bahwa partisipasi masyarakat sangatlah besar. Bantuan stimulan sebesar Rp 1,36 milyar dapat dikembangkan menjadi Rp 3,44 milyar. “Berarti dana partisipasi masyarakat mencapai Rp 2,08 Milyar atau berkembang sebesar 153 % dari dana bantuan”,lanjut Imam Suprapto. “Coba jika dana tersebut diserahkan kepada para pemborong, apa mungkin bisa membangun sebanyak ini? Belum tentu bisa”,tambahnya.
Walaupun demikian, dalam pelaksanaannya juga tidak bisa lepas dari berbagai kendala. Kendala utama, menurut Imam Suprapto, adalah banyaknya pengaduan dari para Kepala Desa kepada Bapemas. “Bantuannya masih kurang pak”,tuturnya menirukan ucapan para Kepala Desa. Melihat perkembangan dari bantuan stimulan yang sangat bagus, maka pada tahun 2012 mendatang sangat mungkin jika jumlah bantuan stimulan akan ditambah, khususnya bagi desa yang partisipasi masyarakatnya besar. Namun sebaliknya, bagi desa yang partisipasi masyarakatnya rendah maka bantuan yang diberikan tidak akan ditambah. Seperti yang dijanjikan oleh Bupati Trenggalek di berbagai kesempatan.
Keuntungan lain dari bantuan stimulan adalah kualitas hasil pengerjaan yang cenderung lebih bagus dari hasil pengerjaan pihak ketiga. Hal ini disebabkan karena masyarakat menyadari sepenuhnya bahwa infrastruktur yang akan dibangun adalah untuk mereka sendiri. “Sangat kecil kemungkinannya jika kualitas infrastruktur dari bantuan stimulan justru dikurangi”,ujar Imam Suprapto. Rasa memiliki dari seluruh elemen masyarakat, inilah faktor utama yang mampu mendorong partisipasi masyarakat hingga sedemikian besar. Jadi tidaklah salah jika kita mengatakan “Tak punya maka tak sayang”. [tim –humas]
