Sudah menjadi adat dan tradisi bagi sebagian masyarakat di wilayah Kabupaten Trenggalek melaksanakan tasyakuran sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Maha Pencipta. Tasyakuran yang dilakukan setiap setahun sekali dan dikemas dalam acara bersih desa ini hampir merata dilakukan oleh masyarakat di tiap-tiap desa. Tidak terkecuali bagi masyarakat Desa Nglebo Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek ini.
Desa Nglebo yang terletak pada dataran tinggi dan dikelilingi oleh gunung ini sudah melaksanakan tradisi bersih desa secara turun temurun. Di desa yang terdapat obyek wisata panjat tebing Gunung Lingga ini masyarakatnya bersatu padu mewujudkan rasa syukur itu sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan karunia hasil bumi dan kehidupan yang tenteram di desa ini.
Maka pada Hari Selasa, 24 Oktober 2011 bertempat di Pendapa Balai Desa Nglebo telah dilaksanakan upacara adat bersih desa. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Trenggalek Kholiq, SH, MSi beserta Ibu Siti Nurul Hanik Ismah Kholiq, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek Peny Mulyadi, Muspika Kecamatan Suruh, Para Kepala Desa se-Kecamatan Suruh, Tokoh agama, Tokoh Masyarakat, dan sebagainya.
Rangkaian acara dimulai dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang aneka lomba, penyerahan santunan kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa’. Dilanjutkan dengan Kirab perlengkapan Murwakala yang dibawa oleh para sesepuh desa. Puncak acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Darminto dengan Lakon Semar Mbangun Kahyangan.
Kepala Desa Nglebo Nurwahyudi dalam kata sambutannya menyatakan bahwa tradisi ini sepenuhnya dilakukan oleh segenap warga Desa Nglebo dengan dilandasi rasa guyub rukun. Hal ini mencerminkan budaya dari masyarakat secara turun temurun yang tetap bertahan hingga saat ini. Tujuan dari bersih desa di samping meneruskan tradisi juga merupakan sarana lebih mempererat hubungan antar masyarakat di sini.
Sementara itu Wakil Bupati Trenggalek Kholiq, SH, MSi dalam arahannya menyambut baik tradisi bersih desa ini dan sudah selayaknya untuk tetap dipertahankan. Hal ini merupakan wujud budi daya masyarakat yang patut dihargai. Pemerintah Kabupaten Trenggalek akan selalu mendukung upaya masyarakat dalam menjaga kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan salah satu cara mempertahankan karakter dan jati diri bangsa.
Acara-acara sejenis memang diadakan oleh masyarakat di wilayah lain di Kabupaten Trenggalek yang selalu jatuh pada Bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Namun dalam tiap-tiap desa penyelenggaraannya selalu dalam bentuk yang berbeda. Seperti yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Pule pada hari Sabtu, 22 Oktober 2011 yang lalu. Masyarakat mengadakan dzikir akbar dan maulidurrasul yang diikuti oleh 5000 jamaah Majelis Dzikir Al Khidmah. Acara ini selain diisi dengan pembacaan dzikir dan manaqib juga diisi pengajian oleh KH Zamzami dari PP Ploso.(a/p)
