Salah satu tradisi yang unik yang tetap bertahan dan bahkan berkemabang di Kabupaten Trenggalek adalah Hari Raya Kupatan (Ketupat). Tradisi ini dilaksanakan 7 hari setelah Hari Raya Idul Fitri sebagai pertanda telah dilaksanakannya Puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh ditambah dengan puasa sunnah 6 hari pada Bulan Syawal. Dinamakan hari raya ketupat, karena sajian utama di tiap-tiap rumah pada hari raya ini adalah ketupat. Dalam bahasa jawa kupat dapat diartikan dengan ngaku lepat yang artinya mengakui kekhilafan, kesalahan atau kekeliruan.
Di daerah lain memang ada tradisi semacam ini, namun tentu saja berbeda dengan yang ada di Kabupaten Trenggalek khususnya di daerah asalnya yaitu Kecamatan Durenan. Pada hari raya ketupat, seakan seluruh masyarakat muslim di Kecamatan Durenan dan sekitarnya berbondong-bondong untuk berkunjung ke rumah sanak famili untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Bahkan jumlah warga yang keluar jauh lebih besar dibandingkan dengan Hari Raya Idul Fitri, sehingga memadatai ruas jalan utama Trenggalek-Tulungagung maupun jalan desa. Hal ini terlihat ketika Hari Raya Ketupat Tahun 2011 digelar, yaitu pada Hari Selasa, 06 September 2011. Sejak sekitar pukul 10.00 WIB, keramaian kendaraan yang melintas sudah mulai terasa. Agar lalu lintas berjalan tertib, Polres Trenggalek bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Hubkominfo) telah mengerahkan lebih dari 200 personilnya untuk menjaga titik-titik yang dianggap rawan kecelakaan. Selain itu, juga memasang pembatas jalan sepanjang 1 km yang melintasi Perempatan Durenan.
Di daerah lain memang ada tradisi semacam ini, namun tentu saja berbeda dengan yang ada di Kabupaten Trenggalek khususnya di daerah asalnya yaitu Kecamatan Durenan. Pada hari raya ketupat, seakan seluruh masyarakat muslim di Kecamatan Durenan dan sekitarnya berbondong-bondong untuk berkunjung ke rumah sanak famili untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Bahkan jumlah warga yang keluar jauh lebih besar dibandingkan dengan Hari Raya Idul Fitri, sehingga memadatai ruas jalan utama Trenggalek-Tulungagung maupun jalan desa. Hal ini terlihat ketika Hari Raya Ketupat Tahun 2011 digelar, yaitu pada Hari Selasa, 06 September 2011. Sejak sekitar pukul 10.00 WIB, keramaian kendaraan yang melintas sudah mulai terasa. Agar lalu lintas berjalan tertib, Polres Trenggalek bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Hubkominfo) telah mengerahkan lebih dari 200 personilnya untuk menjaga titik-titik yang dianggap rawan kecelakaan. Selain itu, juga memasang pembatas jalan sepanjang 1 km yang melintasi Perempatan Durenan.
Bupati Trenggalek Dr. Ir. Mulyadi WR. MMT. didampingi Ny. Penny Mulyadi, Ketua DPRD S. Akbar Abbas, S.E., Dandim 0806 Letkol CZI. Hari Pahlawantoro, Kapolres Trenggalek AKBP Totok Suharyanto S.Ik. M.Hum. Sekretaris Daerah Ir. Cipto Wiyono, M.Si. serta Kepala Dinas terkait turut menyemarakkan Hari Raya Ketupat ini dengan mengunjungi beberapa kediaman alim ulama dan tokoh masyarakat yang ada di Kecamatan Durenan. Lokasi pertama yang dikunjungi oleh Bupati Trenggalek beserta rombongan adalah Kantor Kecamatan Durenan. Dilanjutkan dengan kunjungan ke kediaman KH. Abdul Fatah Mu’in pengasuh Ponpes Babul Ulum sebagai salah satu keturunan perintis tradisi Hari Raya Ketupat yaitu Mbah Mesir, kemudian ke kediaman KH. Mohammad Yunus di Pondok Darussalam Desa Sumbergayam dan diakhiri dengan kunjungan ke kediaman Mahsun Ismail, S.Ag. M.M. mantan Wakil Bupati Trenggalek.
Ketika diwawancarai oleh sejumlah wartawan di Kantor Kecamatan Durenan terkait dengan pemusatan pelaksanaan Hari Raya Ketupat di satu tempat sehingga tidak menganggu jalannya lalu lintas, Bupati Trenggalek sangat menyetujuinya. Namun di sisi yang lain Bupati juga menegaskan bahwa tradisi saling kunjung-mengunjungi ini tidak bisa dicegah karena sudah menjadi tradisi turun-temurun di masyarakat Durenan. “Memusatkan pelaksanaan Hari Raya Ketupat bisa saja dilaksanakan di Lapangan Durenan, namun hanya sebatas bentuk hiburan saja”,ungkap Bupati. Bupati juga mengharapkan agar suatu saat nanti bisa memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan membuat ketupat dengan ukuran besar yang langsung dapat diambil dan dinikmati oleh masyarakat.
Sebelum tiba di Kecamatan Durenan, pada pagi harinya, Bupati Trenggalek beserta rombongan juga menyempatkan diri untuk memberangkatkan kirab ketupat di Kelurahan Kelutan. Kirab diberangkatkan dari Lingkungan Dadap Tulis Jl. Soekano-Hatta Gang Rambutan, serta mengambil finish di Kantor Kelurahan Kelutan. Peringatan Hari Raya Ketupat tahun ketiga di Kelurahan Kelutan ini diberi nama “Gebyar Kupat Kapit III 2011”.
Dilaporkan oleh Lurah Kelutan, Yuli Priyanto, S.Sos. bahwa selain kirab ketupat, di banyak titik juga disiapkan sejumlah hiburan untuk masyarakat, diantaranya musik elekton, jaranan, reog, tiban dan masih banyak hiburan lainnya. “Diharapkan dengan event Hari Raya Ketupat ini dapat tercipta hiburan yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, pelestarian budaya serta wisata religi”,tuturnya. Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat melalui terbukannya pasar kaget/dadakan karena ramainya pengunjung yang menyaksikan Gebyar Ketupat. “Oleh karena itu, besar harapan dari masyarakat Kelurahan Kelutan untuk dapatnya Pemkab Trenggalek mengagendakan event ini sebagai kegiatan rutin tiap tahunnya”, harap Lurah Kelutan.
Dalam sambutannya, Bupati Trenggalek sangat mengapresiasi acara Gebyar Ketupat yang merupakan hasil swadaya dari masyarakat ini. “Luar biasa bagi masyarakat Kelutan”, ungkapnya. Acara ini menurut Bupati patut untuk dilestarikan dan diagendakan setiap tahunnya. “Pemkab Trenggalek siap untuk memfasilitasinya”,lanjut Bupati.
Selain itu, Bupati juga mengharapkan perekonomian di Kabupaten Trenggalek semakin maju, tidak hanya terpusat di sekitaran Alon-alon dan Pendopo saja. Untuk mewujudkan hal ini, Bupati telah merencanakan untuk membuka Pasar Tugu (Sabtu dan Minggu) di halaman luar Stadion Kelutan. “Ibu-ibu penjual cenil, tempe, bakso silahkan nanti berjualan di muka ruko stadion”, kata Bupati. Diharapkan dengan dibukanya Pasar Tugu ini dapat lebih meningkatkan perekonomian masyarakat. Di akhir sambutannya, Bupati berpesan kepada peserta kirab untuk selalu berhati-hati dan menjaga ketertiban lalu lintas. “Saya harap semua peserta dapat menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain”,pungkas Bupati. [okt/ys]

