Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) ke-3 Provinsi Jawa Timur tidak lama lagi akan digelar. Kabupaten Trenggalek telah siap dengan 25 calon peserta (kafila) untuk mengikuti event yang akan digelar di Pondok Pesantren Nurul Qodim Kabupaten Probolinggo tanggal 8-13 Mei 2011 mendatang. Bupati Trenggalek pada Kamis, 05 Mei 2011 bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Trenggalek secara resmi telah memberangkatkan kafila MQK menuju Kabupaten Probolinggo.
Menurut keterangan Ketua Panitia, Drs. Assaat Handayono M.Si., MQK merupakan salah satu cabang perlombaan dalam agama Islam yang bertujuan untuk mendorong terciptanya pemahaman terhadap kitab-kitab rujukan yang digunakan di pondok pesantren atau yang dikenal dengan istilah Kitab Kuning. “Perbedaan mendasar MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) dan MQK adalah sebagai berikut, MTQ berfokus pada seni membaca Al-Quran berikut cabang-cabangnya, sedangkan MQK lebih ditekankan pada pemahaman isi Kitab-Kitab rujukan yang ada di Pondok Pesantren, seperti fiqih, tafsir dan sebagainya”, tuturnya.
Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Kasi Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren) Kemenag Trenggalek ini menjelaskan bahwa MQK tingkat Provinsi Jatim merupakan agenda rutin tiap dua tahun sekali, yang diawali dengan seleksi di tiap-tiap kabupaten pada tahun sebelumnya. Begitu pula dengan Kabupaten Trenggalek, seleksi telah dilakukan pada tahun yang lalu tepatnya pada Bulan Maret 2010 dan diikuti oleh 185 santri dari seluruh Pondok Pesantren di Kabupaten Trenggalek.
Para juara tingkat kabupaten inilah yang terus dibina untuk dikirimkan ke MQK tingkat Provinsi. Bahkan apabila menjadi juara, akan diproyeksikan sebagai wakil Jawa Timur untuk mengikuti MQK tingkat nasional yang rencananya akan digelar pada akhir Tahun 2011 ini. “Santri Trenggalek juga pernah mengharumkan nama Kabupaten Trenggalek ketika berhasil menjadi Juara 2 dalam MQK Tingkat Nasional ke-I yang digelar pada tahun 2007 yang lalu”, lanjut Assaat.
Dalam pelaksanaannya, 25 orang anggota kafila ini nantinya akan dibagi menjadi empat marhalah (tingkatan), yaitu Marhalah Ula (dasar) sebanyak 4 santri, Marhalah Wustho (pertengahan) berjumlah 9 santri, Marhalah ‘Ulya (lanjutan) juga 9 santri serta Marhalah Khusus berupa debat bahasa Inggris yang hanya diikuti oleh 1 tim yang terdiri dari 3 santri.
Bupati Trenggalek, Dr. Ir. Mulyadi WR. MMT. dalam sambutannya sangat mengapresiasi acara MQK. “Event ini sangatlah bagus dan wajib untuk terus dilaksanakan”,ujarnya. Point penting pelaksanaan MQK ini adalah dapat memfilter pengaruh aliran-aliran sesat yang saat ini banyak sekali bermuculan. Terkait hal ini, Bupati juga meminta kepada segenap alim ulama untuk terjun ke lapangan guna menanggulangi aliran-aliran sesat yang apabila dibiarkan akan semakin menggerogoti Agama Islam.
Kepada para anggota kafila, Bupati meminta agar mepersiapkan mental yang kuat ketika melakukan perlombaan. “ Sebaik apapun persiapan dan pembinaan, namun ketika mental ini jatuh maka hasilnya akan kurang memuaskan”, ujarnya. Terkait keberhasilan Kabupaten Trenggalek ketika berhasil menjadi juara 2 Nasional MQK pada Tahun 2007 yang lalu, Bupati meminta untuk tidak hanya dijadikan sebagai dongeng keberhasilan masa lalu saja. Namun justru sebagai cambuk pelecut motivasi agar tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin.
Selain itu, untuk lebih meningkatkan semangat peserta MQK, Bupati menginstruksikan kepada Kabag Kesra untuk menyiapkan hadiah bagi peserta yang berhasil menjadi Juara 1, 2 dan 3. “Bahkan kalau anggarannya masih tersedia, pembinanya pun juga harus diberikan hadiah”, tutur Bupati disambut tepuk tangan seluruh peserta.[okt]