Potensi Kabupaten Trenggalek memang menarik untuk digali dari berbagai sudut pandang. Disamping kekayaan alam yang melimpah serta potensi pariwisata yang tidak kalah indahnya, belum lama ini seorang sastawan tertarik untuk menjadikan salah satu wilayah di Kabupaten Trenggalek sebagai setting tempat (latar) dalam menuangkan karya tulisnya. Yang lebih menarik, ternyata sastawan ini bukan warga asli Kabupaten Trenggalek namun berasal dari luar kota, tepatnya dari Kabupaten Bojonegoro.
The Soul Moonlight Sonata, itulah judul karya tulis berbentuk novel yang telah memperkenalkan Desa Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek di dunia sastra. Novel ini ditulis oleh sastrawan bernama Endang Winarti atau yang lebih dikenal dengan nama pena Wina Bojonegoro.
Dalam kesempatan tersebut, Bonari Nabonenar yang merupakan salah satu Sastrawan di Jawa Timur mengungkapkan bahwa sebenarnya potensi masyarakat Trenggalek di bidang seni dan sastra tidak kalah dengan daerah lain di Jawa Timur. “Hal ini dibuktikan dengan dianugerahkannya penghargaan di bidang sastra kepada seniman asli Trenggalek baik tingkat regional maupun nasional”, ungkap pria kelahiran Desa Cakul Kecamatan Dongko ini. Selain itu, pria yang juga merupakan perantara antara Wina Bojonegoro dan insan sastra di Kabupaten Trenggalek ini mengungkapkan bahwa mempromosikan daerah melalui novel mempunyai banyak keuntungan. “Jika promosi melalui koran dan majalah, mungkin maksimal hanya bertahan selama 1 bulan. Namun, jika melalui novel/buku tidak akan terbatas oleh waktu”,ungkapnya.
Dalam sambutannya, Drs. Catur Budi Prasetyo menyambut baik dan mendukung pengembangan sastra dengan adanya komunitas QLC. Dengan sarana prasarana yang ada, Kepala Dinas Poraparibud mengharapkan segenap unsur sastra di Kabupaten Trenggalek untuk terus mengembangkan jiwa seninya. “Pemkab Trenggalek akan berusaha untuk membantu pengembangan sastra semaksimal mungkin”,tuturnya.
Selanjutnya, dengan diadakannya Musda I Dewan Kesenian Trenggalek pada hari Rabu (4/5) yang lalu dan terpilihnya Ir. Cipto Wiyono, M.Si sebagai Ketua Umum dan Bonari Nabonenar sebagai Ketua Harian, Drs. Catur mengharapkan Dewan Kesenian dapat menjadi mitra pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di bidang kesenian. “Dengan dibentuknya kepengurusan Dewan Kesenian yang baru, semoga kegiatan seni dan budaya di Kabupaten Trenggalek dapat berjalan lebih efektif”, pungkasnya.
Wina Bojonegoro dalam kesempatan ini berbagi tips dan pengalaman kepada peserta arisan sastra dalam menulis karya sastra. Dengan pengalamannya menulis lebih dari 20 tahun, diharapkan insan seni di Kabupaten Trenggalek dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari wanita kelahiran 10 Agustus 1962 ini.
Ketika diwawancari secara terpisah, Wina Bojonegoro mengungkapkan bahwa ide awal menggunakan latar Kabupaten Trenggalek berasal dari Bonari Nabonenar. Namun keputusan menggunakan latar Desa Gandusari didapatkan dari internet. Selain itu, Wina memanfaatkan info dari teman-teman dekat untuk menguak tentang Desa Gandusari. “Saya sendiri juga belum pernah berkunjung ke Gandusari sebelumnya”,ungkapnya.
Selanjutnya, didampingi dengan Bonari Nabonenar, Wina Bojonegoro melihat secara langsung kondisi Desa Gandusari guna lebih memperdalam karya novelnya yang direncanakan akan disusun bersambung sampai 4 seri (tetralogi). [okt]