laman

Pantai Prigi - Kecamatan Watulimo Air Terjun Pelang - Kecamatan Panggul Pantai Karanggongso - Bagian Humas dan Protokol Kab. Trenggalek Jalan Lintas Selatan (JLS) - Kecamatan Watulimo Goa Lowo - Kecamatan Watulimo Pantai Pelang - Kecamatan Panggul Tradisi Longkangan di Pantai Blado - Kecamatan Munjungan

19 April 2011

Produksi Padi Meningkat, Trenggalek Mendapatkan Penghargaan dari Presiden

Anggapan bahwa Kabupaten Trenggalek hanya sebagai penghasil singkong dengan melekatnya julukan “Trenggalek Kota Gaplek” perlahan tapi pasti mulai terkikis. Trenggalek juga tidak kalah dengan kabupaten lain dalam produksi padi. Hal ini dibuktikan dengan dianugerahkannya penghargaan dari Presiden RI kepada Kabupaten Trenggalek yang telah berhasil meningkatkan produksi padi di atas 5 % pada tahun 2010.
Menurut keterangan Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Pertahutbun) Kabupaten Trenggalek, Ir. Joko Surono saat ditemui di kantornya,  Selasa,  19 April 2011, penghargaan ini diberikan melalui Dirjen Tanaman Pangan pada tanggal 7 April 2011 di Balai Pengembangan Palawija Kota Malang. Penghargaan ini diberikan karena produksi padi Kabupaten Trenggalek pada tahun 2010 naik sebesar 192.154 ton atau 13,8% dari produksi padi tahun 2009 sebesar 168.898 ton. Sebelumnya penghargaan serupa juga telah diterima Kabupaten Trenggalek pada tahun 2009.
Sawah di Kecamatan Munjungan
Selain itu, untuk kebutuhan beras pun juga surplus. Kebutuhan beras masyarakat Trenggalek pada tahun 2010 sebesar 92.068 ton sedangkan produksi beras mencapai 121.441 ton. “Jadi Kabupaten Trenggalek surplus beras sekitar 24,2 %”, papar Joko Surono.
Masih menurut Joko Surono, keberhasilan peningkatan produksi beras pada tahun 2010 selain karena bantuan benih dari pemerintah pusat juga karena digalakkanya Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Dimana pada tahun 2010 terdapat 800 kelompok tani. “Setiap kelompok terdiri dari 25 orang dan masing-masing mendapat bantuan  benih padi untuk lahan seluas 25 ha”, tutur Joko Surono.
Dalam SLPTT inilah, para petani melakukan kajian dan berbagi pengalaman untuk menghasilkan produksi padi yang terbaik. “Biasanya para petani melakukan kajian tentang jarak penanaman, jenis varietas tanaman, serta penggunaan pupuk yang optimal. Kajian ini juga dipandu oleh teman-teman dari penyuluh pertanian”, ujar Joko Surono.
Selain dari faktor-faktor di atas, musim penghujan yang terjadi sepanjang tahun 2010 turut mendorong para petani untuk menanam padi. Sehingga luas areal yang digunakan untuk menanam padi pada tahun 2010 meningkat menjadi 21.982 ha dari tahun 2009 yang hanya seluas 27.362 ha. Hal ini beresiko hasil produksi pertanian selain padi semisal palawija, jagung, kedelai ikut turun. “Walaupun turun, target produksi pertanian non padi masih terpenuhi”, lanjut Joko Surono.
Pada tahun 2011 ini, Kepala Pertahutbun optimis produksi padi masih tinggi. “Target minimal sama dengan tahun 2010”, ujar Joko Surono. Walaupun demikian, tingginya anomali air pada tahun 2011 ini juga disinyalir akan berdampak munculnya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan prototype berbeda, misalnya dengan munculnya wereng dengan ukuran yang lebih kecil, siklus yang pendek dan anakan yang lebih banyak dari wereng yang biasanya ditemukan.
Dinas Pertahutbun akan berusaha untuk terus mengamati berbagai jenis hama yang muncul serta merekomendasikan pestisida yang tepat kepada masyarakat untuk mengatasinya. Selain itu, pemanfaatan pupuk organik akan terus digalakkan kepada para petani. “Walaupun pupuk organik bekerja secara bertahap, namun pasti akan menambah kesuburan tanah”, ujar Joko Surono [okt/ys].

Komentar

Kumpulan Video Trenggalek

*) Untuk melihat video lain tentang Trenggalek klik menu daftar putar pada kiri atas video