laman

Pantai Prigi - Kecamatan Watulimo Air Terjun Pelang - Kecamatan Panggul Pantai Karanggongso - Bagian Humas dan Protokol Kab. Trenggalek Jalan Lintas Selatan (JLS) - Kecamatan Watulimo Goa Lowo - Kecamatan Watulimo Pantai Pelang - Kecamatan Panggul Tradisi Longkangan di Pantai Blado - Kecamatan Munjungan

9 Maret 2011

Fenomena Suara Gemuruh dari Dalam Tanah Tidak Berbahaya, Masyarakat Diharapkan Tidak Resah

Fenomena suara gemuruh yang terjadi di Kabupaten Trenggalek, Tulungagung dan Ponorogo, Madiun dan Nganjuk akhir-akhir ini mendorong Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemerintah Propinsi Jawa Timur untuk mengadakan sosialisasi terkait penanggulan bencana geologi (tanah longsor/gerakan tanah). Sosialisasi ini digelar pada hari Kamis 08 Maret 2011 di aula Bakorwil I Madiun dan dihadiri pejabat terkait beserta camat di Kabupaten Ponorogo, Tulungagung dan Trenggalek. Sedangkan untuk Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk telah dilaksanakan lebih dahulu. Turut hadir pula narasumber dari 5 lembaga yang berbeda, yaitu : PVMBG Bandung, BMKG Tretes, Pusat Studi Bencana ITS, BPBD Provinsi Jatim serta dari Dinas ESDM Provinsi Jatim. Sosialisasi ini dipimpin langsung oleh Kepala Bakorwil I Madiun, Drs. Priyo Dharmawan M.Sc.
Dari paparan para nara sumber yang pernah mengadakan penelitian terkait fenomena suara dentuman atau gemuruh dapat disimpulkan bahwa fenomena tersebut tidak berbahaya, karena itu diharapkan masyarakat di wilayah yang terjadi fenomena suara dentuman untuk tidak resah. Berdasarka hasil penelitian beberapa lembaga yang kompeten, fenomena ini disebabkan oleh pergerakan tanah lambat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa fenomena suara gemuruh yang terjadi disebabkan oleh gerakan blok tanah/bebatuan di dalam bumi yang dipicu oleh tingginya curah hujan dalam 1 tahun terakhir ini serta juga dipengaruhi oleh adanya gaya tektonik.
Selain itu, dari hasil memantau aktifitas Gunung Wilis ternyata tidak ada indikasi akan meletus dengan kata lain statusnya masih aman. Oleh karena itu diharapkan masyarakat tidak perlu resah. Walaupun masih dalam status aman, masyarakat dihimbau untuk terus waspada terhadap lingkungan sekitar, karena letak geografis ketiga kabupaten yang merupakan kawasan perbukitan dengan kemiringan yang cukup tinggi potensial untuk terjadi tanah longsor.
Amin Widodo dari Pusat Studi Bencana ITS menyampaikan bahwa sangat perlu untuk mengetahui gejala tanah longsor beserta upaya untuk menghambatnya. Sedangkan Supardan dari Dinas ESDM menjelaskan adanya gejala sebelum terjadinya tanah longsor dapat diketahui dari beberapa gejala, antara lain: adanya retakan tanah yang melengkung, adanya amblesan tanah, penggembungan lereng, munculnya rembesan air lumpur dari tanah, pohon / tiang yang miring, berubahnya bentuk rumah, serta debit sungai yang tiba-tiba surut. Apabila terjadi salah satu dari tanda-tanda itu diharapkan masyarakat untuk melakukan penyelamatan diri.
Untuk menghambat terjadinya tanah longsor, lanjut Amin Widodo, dapat dilakukan dengan menutup tanah yang retak dengan tanah liat sehingga air hujan yang menjadi pemdorong terjadinya tanah longsor tidak dapat masuk ke dalam tanah. Sedangkan untuk menguatkan bukit agar tidak longsor dengan cara digalakkan reboisasi (penanaman kembali) dengan jenis tanaman yang berakar kuat.(hms)

Komentar

Kumpulan Video Trenggalek

*) Untuk melihat video lain tentang Trenggalek klik menu daftar putar pada kiri atas video