Fenomena suara dentuman yang terdengar di Kecamatan Watulimo, Munjungan, Kampak, Gandusari, Karangan maupun Dongko telah memasuki minggu ketiga. Menurut survey oleh Kantor Geofisika Tretes-BMKG yang dilaksanakan pada tanggal 15 sampai dengan 18 Pebruari 2011, dentuman tersebut disebabkan oleh pelepasan energi dari adanya getaran/pergeseran di dalam bumi.
Saat ini, Bupati Trenggalek melalui Sekretaris Daerah telah mengirimkan surat kepada Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung Jawa Barat untuk mengirimkan Tim Survey ke Trenggalek guna meneliti lebih jauh fenomena menggelegar tersebut. Kebetulan saat ini sebagian Tim dari PVMBG sedang berada di Kabupaten Ponorgo untuk melaksanakan penelitian dengan kasus yang hampir sama.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr. Surono saat dihubungi melalui telepon seluler pada hari Senin, 21 Pebruari 2011 pukul 13.30 WIB oleh Kepala Bagian Humas Setda Kabupaten Trenggalek, Yoso Mihardi, S.S, M.Si, menyatakan bahwa masyarakat Trenggalek tidak perlu resah, karena kejadian tersebut bukanlah gempa tektonik melainkan sebuah dampak dari terjadinya pergerakan tanah lambat.
Dalam catatan PVMBG, kejadian yang sama pernah terjadi di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara dan Bandung Utara, Jawa Barat pada tahun 2010 lalu. Kejadian tersebut biasanya akan selalu terjadi di musim penghujan dan akan berhenti dengan sendirinya saat kemarau tiba. Lebih lanjut Dr. Surono menjelaskan bahwa fenomena tersebut adalah gesekan antara lapisan tanah dengan kelembapan tinggi karena air hujan dengan lapisan dalam yang kedap air. Untuk mempermudah penjelasannya, Dr. Surono mencontohkan sebuah meja dengan beban berat di atasnya, apabila ditarik secara tiba-tiba dapat dipastikan akan memunculkan suara yang merupakan hasil pergesekan atara kaki meja dengan lantai. Getaran juga dipastikan muncul di bagian atas meja, juga sebagai akibat gesekan tersebut.
Masih menurut Dr. Surono, dampak yang mungkin terjadi adalah tanah retak. Kalau longsor kemungkinannya kecil, kecuali daerah tempat kejadiannya memiliki kemiringan yang curam. Bila nanti terjadi retak, Dr. Surono menyarankan agar langsung ditutup dengan tanah liat atau lempung kemudian dipadatkan, karena bila retakan tersebut terisi oleh air akan mempercepat terjadinya pergeseran tanah atau biasa disebut tanah longsor [#].